Yogyakarta, tvmukalsel.com — Keberadaan kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang berdiri megah di kawasan Tamantirto, Kasihan, Bantul, menyimpan rekam jejak sejarah yang luar biasa. Di balik luasnya lahan kampus tersebut, terdapat kisah keteladanan dan hubungan erat antara Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1968–1990, KH AR Fachruddin (Pak AR), dan Presiden Ke-2 Republik Indonesia, Soeharto.
Peristiwa bersejarah ini bermula pada tahun 1990, ketika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sedang merencanakan pengembangan kampus secara besar-besaran. Pengurus perguruan tinggi dan persyarikatan menyadari bahwa kebutuhan ruang akademik saat itu makin mendesak seiring bertambahnya jumlah mahasiswa.
Untuk merealisasikan rencana ekspansi tersebut, UMY menargetkan pembebasan lahan seluas 25 hektare di wilayah Tamantirto, Bantul. Area ini dinilai sangat strategis untuk membangun kompleks kampus terpadu yang modern dan representatif bagi civitas akademika.
Namun, upaya pembebasan lahan tidak berjalan tanpa kendala. Pada masa itu, kondisi keuangan dan dana kas yang dimiliki oleh UMY masih sangat terbatas sehingga belum mencukupi untuk melunasi pembebasan lahan yang begitu luas.
Melihat situasi tersebut, KH AR Fachruddin tidak tinggal diam. Sebagai pimpinan tertinggi Muhammadiyah saat itu, beliau berinisiatif mengambil langkah santun untuk mencari jalan keluar demi kelangsungan pendidikan umat.
Pak AR kemudian memutuskan untuk berkirim surat langsung kepada Presiden Soeharto. Uniknya, surat tersebut tidak ditulis menggunakan bahasa Indonesia formal sebagaimana korespondensi pejabat negara pada umumnya, melainkan menggunakan bahasa Jawa halus (krama inggil).
Dalam surat bertuliskan bahasa Jawa halus tersebut, Pak AR menyampaikan kondisi yang dialami Muhammadiyah dengan penuh kelembutan dan kesantunan. Maksud utama dari surat tersebut adalah memohon pinjaman dana dari pemerintah untuk membantu proses pembebasan tanah kampus.
Surat tersebut akhirnya diterima dan dibaca langsung oleh Presiden Soeharto. Menanggapi permohonan pinjaman tersebut, Soeharto memberikan jawaban dengan sangat hati-hati dan bijaksana.
Secara teknis dan aturan hukum, Soeharto terpaksa menolak opsi pinjaman dari kas negara. Penolakan ini didasari oleh regulasi keuangan negara yang memang tidak mengizinkan kas negara dipinjamkan atau digunakan untuk mekanisme pembiayaan seperti itu.
Kendati tidak bisa mengabulkan permohonan pinjaman melalui mekanisme anggaran negara, Presiden Soeharto tidak lantas menutup mata. Beliau tersentuh oleh kesantunan Pak AR dan pentingnya ikhtiar Muhammadiyah dalam bidang pendidikan.
Sebagai gantinya, Soeharto secara mengejutkan memberikan solusi dari kantongnya sendiri. Beliau memutuskan untuk memberikan bantuan dana pribadi guna melunasi seluruh biaya pembebasan lahan kampus UMY tersebut.
Keputusan dan bantuan pribadi dari Soeharto menjadi titik balik penting bagi masa depan UMY. Proses pembebasan tanah berjalan lancar hingga akhirnya lahan seluas 25 hektare tersebut berhasil dibebaskan sepenuhnya.
Kini, lahan tersebut telah menjelma menjadi kampus terpadu UMY yang megah dan mencetak ratusan ribu alumni. Kisah diplomasi bahasa Jawa halus ala Pak AR dan kedermawanan Soeharto pun terus dikenang sebagai catatan sejarah berharga dalam perjalanan pendidikan di Indonesia.
Klik Link 👇
Live Streaming tvMu
https://cdn.siar.us/play/?id=tvmu&autoplay=1&mute=true








Komentar