tvmukalsel.com – Kehadiran I Wayan Amerta Yoga sebagai lulusan terbaik di Universitas Muhammadiyah Palu menegaskan bagaimana perguruan tinggi berbasis Islam mampu menjadi ruang perjumpaan yang inklusif bagi seluruh anak bangsa. Latar belakang agama terbukti tidak menjadi penghalang untuk mengukir prestasi akademik tertinggi di lingkungan kampus.
Konsistensi kampus-kampus Muhammadiyah dalam merawat keharmonisan dan nilai-nilai kebhinekaan kembali terbukti nyata. Universitas Muhammadiyah Palu secara konsisten membuka pintu setinggi-tingginya bagi seluruh mahasiswa tanpa membedakan latar belakang keyakinan.
Selama menempuh studi di perguruan tinggi Muhammadiyah, Amerta tidak sekadar memburu capaian nilai tinggi secara akademik. Lebih dari itu, ia memetik pelajaran berharga mengenai arti persaudaraan antarumat beragama, keharmonisan sosial, serta rasa saling menghargai.
Amerta merupakan mahasiswa pemeluk agama Hindu yang menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S1 Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Palu. Ia resmi dikukuhkan sebagai sarjana dalam prosesi Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-56 yang diselenggarakan pada Jumat, (9/ 2026)
Istimewanya, Amerta berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00 sekaligus dinobatkan sebagai lulusan tercepat dengan masa studi 3 tahun 5 bulan 5 hari. Pencapaian ini membuktikan kualitas akademiknya yang sangat solid.
“Saat awal memilih kuliah di Universitas Muhammadiyah Palu, banyak rekan sempat meragukan keputusan saya karena latar belakang keyakinan yang berbeda. Hari ini, di momentum kelulusan ini, saya menegaskan bahwa keputusan memilih tempat belajar di sini adalah langkah yang sangat tepat,” tegasnya.
Pilihan tersebut justru membukakan jalan bagi Amerta untuk mengenyam pendidikan karakter yang sangat bernilai. Lingkungan perguruan tinggi baginya merupakan wahana dinamis untuk mengasah empati, memperluas wawasan sosial, dan membina persahabatan lintas batas keyakinan.
Catatan manis ini menjadi bukti konkret bahwa semangat keberagaman dapat dipraktikkan secara alami dalam dinamika kampus sehari-hari. Perbedaan agama tidak menciptakan batasan, melainkan melengkapi warna kebersamaan dalam menuntaskan tugas akademik.
Mengenal Islam Lewat AIK Hingga Julukan “Amerta Si Hindu Muhammadiyah”
Perjalanan akademik Amerta menjadi kian berkesan saat dirinya menempuh mata kuliah wajib Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Berawal dari pemenuhan kurikulum, rasa ingin tahunya mendorong Amerta untuk aktif menyimak berbagai forum kajian keislaman yang digelar oleh pihak kampus.
“Pada mulanya saya menganggap AIK sebatas pemenuhan beban studi, namun lama-kelamaan materinya terasa amat membekas. Antusiasme itu membuat saya makin rajin mendatangi kajian di kampus, hingga kawan-kawan akrab menyapa saya dengan sebutan Amerta Si Hindu Muhammadiyah,” kenangnya.
Fenomena unik ini memperlihatkan bahwa panggilan khas tersebut melekat berkat keterbukaan pikirannya untuk memahami pemikiran dan budaya organisasi tempatnya bernaung tanpa kehilangan identitas aslinya.
“Kampus Universitas Muhammadiyah Palu memberikan pelajaran berharga bahwa esensi pendidikan sejati tidak hanya mengasah intelektualitas, tetapi juga menumbuhkan rasa kemanusiaan dan saling menghormati perbedaan,” tambahnya.
Ungkapan tersebut mencerminkan dinamika positif yang dirasakan Amerta selama mengenyam pendidikan. Kampus terbukti mampu hadir sebagai tempat bertumbuh yang kondusif, di mana setiap individu diajak untuk merawat toleransi dan mempererat ikatan persaudaraan.
Bagi Amerta, raihan IPK 4,00 bukan sebatas torehan angka di atas kertas nilai. Predikat tersebut merupakan simbol keberhasilan seorang mahasiswa yang berani keluar dari zona nyaman dan berkembang di tengah iklim akademik yang majemuk.
Kisah Amerta memberikan inspirasi bahwa heterogenitas di lingkungan kampus merupakan aset yang saling memperkaya. Perbedaan keyakinan terbukti tidak menyurutkan semangat seorang mahasiswa untuk menorehkan prestasi puncak dan menjalin hubungan sosial yang harmonis.
Pada saat yang sama, momentum ini membuktikan bahwa prinsip-prinsip keterbukaan, nilai persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama dapat diwujudkan secara nyata dalam kehidupan perguruan tinggi.
Universitas Muhammadiyah Palu menjadi cermin bahwa lembaga pendidikan mampu memfasilitasi mahasiswa dari beragam latar belakang untuk berjalan beriringan mencapai cita-cita bersama: menimba ilmu, menggembleng potensi diri, serta menebar manfaat luas bagi masyarakat.
Pada akhirnya, wujud inklusivitas di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah menyampaikan pesan mendalam bahwa keberagaman bukanlah hambatan untuk mencapai tujuan bersama, yaitu menuntut ilmu, menempa diri, dan memberi kontribusi positif bagi kemanusiaan.








Komentar